25 November 2009

Golongan Yang Selamat Dalam Islam: Golongan Mana?

takfir



GOLONGAN YANG SELAMAT DALAM AL-QUR’AN

Orang sekarang ini dengan mudah mengklaim golongan dan jamaahnya sebagai golongan dan jamaah yang selamat. Selain pengikut jamaahnya adalah sesat dan tidak selamat. Karena hal ini, banyak orang yang “kebingungan dalam beragama”, dan sangat mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: “Siapakah seseungguhnya golongan yang selamat itu?”

Dalam Surat al Fathihah, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa manusia terbagi atas tiga golongan saja, yaitu:

1. Golongan yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
2. Golongan yang Dimurkai.
3. Golongan yang Sesat.

Mengacu kepada ayat tersebut sesungguhnya sangat jelas sekali, bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang berada di Shiraath al Mustaqiim. Mereka adalah orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta’ala, yang dijelaskan dalam (QS 4:69), bahwa:

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: An-Nabiyyin, Ash-Shiddiiqiin, Asy-Syuhadaa (QS 57:19) dan Ash-Shalihiin (QS 19:9). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)”

Tapi pertanyaannya, di masa ini, kelompok yang manakah yang sedang berada di atas Shirat Al-Mustaqiim itu? Kita akan membahas ini di akhir artikel.


SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Banyak orang menganggap bahwa Shiraath Al-Mustaqiim ini ‘abstrak’ dan hanya akan dapat ditemui di akhirat. Dalam Al Qur’an Shiraath Al Mustaqiim dijelaskan sebagai:


1. Ad-Diin (Agama) yang tegak

Ketika seorang beragama, dan dalam pelaksanaan agamanya ia belum berada di atas Shirath Al Mustaqiim, sesungguhnya agamanya itu belum tegak (hakiki).

“Dan apabila ia telah berada di atas Shirath Al Mustaqiim, maka sesungguhnya diin dalam dirinya telah tegak.” (QS 6:161)

Shiraath akar katanya berarti tertelan (menurut Quraish Shihaab), Al Mustaqiim berarti adalah orang yang berada dalam keadaan istiqamah (mantap/konsisten). Artinya, orang yang berada di Shiraath Al Mustaqiim, adalah orang yang telah tertelan dalam keistiqamahan kepada jalan Allah. Tidak akan lagi bergeser kepada kekufuran.

Orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim dijaga oleh Allah Ta’ala dari mengarah kepada kesalahan, dimana penjagaannya bagaikan dipegangnya ubun-ubun binatang melata. (lihat Q.S 11:56). Dan sesungguhnya Allah Ta’ala yang menjaga Shiraath Al Mustaqiim (lihat Q.S 15:41).


2. Jalan Orang yang Diberi Nikmat

Karena orang-orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim, dijaga oleh Allah Ta’ala dari kesalahan, maka mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat. (Q.S 1:7)

Untuk itu nikmat disini bukanlah sekedar nimat kesehatan, nikmat harta benda, dsb. Tetapi jauh lebih besar dari itu, adalah nikmat dijaga oleh Allah Ta’ala dari segala kesalahan dan hidup bersama Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala pun berada di atas Shiraath Al Mustaqiim (Q.S 11:56).


3. ‘Jalan’ Allah

Orang yang selamat hanyalah mereka yang berada di atas Shiraath al Mustaqiim. Shiraath al Mustaqiim inilah sesungguhnya merupakan ‘jalan’ Allah.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini Shiraath al Mustaqiim’. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’ (QS [6] : 153)” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)


MENUJU SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Untuk menuju Shiraath al Mustaqiim, Allah Ta’ala telah dengan jelas menginformasikan kepada kita tentang prosesnya di al Qur’an. Media Allah Ta’ala membimbing seorang manusia menuju Shiraath Al Mustaqiim adalah dengan petunjuk-Nya.

Petunjuk Allah Ta’ala ada 2 (dua) jenis: (1) Petunjuk Umum dan (2) Petunjuk Khusus.

Petunjuk Umum, adalah Al Qur’an yang merupakan petunjuk untuk seluruh manusia. Sedangkan Petunjuk Khusus, adalah petunjuk yang Allah Ta’ala turunkan kepada manusia secara individual, orang perseorangan langsung ke dalam qalbunya.

Petunjuk khusus ini akan Allah Ta’ala turunkan apabila seorang manusia menjalankan substansi nilai-nilai yang dipandu dalam Petunjuk Umum. Tahapan-tahapan ini dijelaskan dalam ayat berikut:

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke Subulussalam, (jalan-jalan keselamatan) dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke Shiraath al Mustaqiim.” (Q.S. 5:16)


Petunjuk langsung ke qalb

Sayangnya kebanyakan manusia –karena ia tidak merasakannya- memungkiri bahwa sesungguhnya manusia dapat menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala melalui qalb-nya. Mereka menganggap bahwa yang bisa menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala hanyalah para Nabi, dan hal itu telah tertutup dengan khatamnya para Nabi. Padahal ayat-ayatnya sudah demikian jelas di al Qur’an.

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q. S. 64:11)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya.” (Q.S. 10:9)

Dan sesungguhnya apabila kita tidak termasuk dalam golongan yang mendapat petunjuk Allah kepada Shiraath al Mustaqiim, niscaya kita hanya akan termasuk ke dalam golongan yang sesat.

“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. 6:77)

Untuk terpimpin kepada Shiraath Al Mustaqiim, syaratnya adalah mampu mendapat petunjuk langsung dari Allah ta’ala, dan syarat untuk mendapat petunjuk langsung itu adalah iman.

Namun iman yang bagaimana? Apakah iman yang sekedar definisi-definisi dan dalil-dalil? Jawabannya adalah “Bukan!”.

Iman yang menjadi syarat seorang mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala, adalah iman yang berupa cahaya (nur iman), yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat (pertolongan)-Nya untuk mensucikan qalb-nya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Q.S. 2:257)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 57:28)

Dan bagaimana sesungguhnya untuk mendapatkan cahaya iman tersebut? Allah berkata, syaratnya adalah Islam.

“Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka):” Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbumu.” (Q.S. 49:14)

Dari ayat di atas, dapat kita cermati bahwa mereka yang ber-islam tidak serta merta langsung menjadi beriman. Mereka yang Islam bisa jadi belum beriman, karena Islam dan Iman merupakan dua tahap yang berkelanjutan/sekuensial.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah qalb-nya (untuk) ber-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. 39:22)

Namun Islam, bukanlah sekedar “formal Islam”- nya, tetapi lebih dalam dari itu adalah menjalankan substansinya, yaitu: penyerahan diri kepada Allah. (Catatan: Islam secara dasar kata berarti berserah diri). Dan inilah sesungguuhnya substansi dasar ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam al Qur’an.


PESAN UTAMA AJARAN ILAHIYYAH

Allah Ta’ala mengutus setiap utusannya, sejak zaman Adam as sampai Nabi Muhammad SAW, adalah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Lihatlah ayat-ayat Al Qur’an berikut ini:

Nuh A.S

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku (Nuh A.S) disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (Q.S. 10:72).

Ibrahim A.S

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (Q.S. 3:67).

Musa A.S

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri“. (Q.S. 10:84).

Ya’qub A.S

“Dan Ya’qub berkata:”Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri“. (Q.S. 12:67).

Sulaiman A.S

“Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”. (Q.S. 27:44).

Isa A.S

“Aku (Isa A.S) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi (syahiidan) terhadap mereka”. (Q.S.5 :117).

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah” Para hawariyyin menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. 3:52).

Muhammad SAW

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku (Muhammad SAW)adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:162-163)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:14)

Penyerahan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dimana seluruh aspek kehidupan diperuntukkan untuk Allah (yang mempunyai 99 asma) semata, merupakan pesan utama ajaran ilahiyah. Sehingga disampaikan oleh para utusan- Nya setiap zaman.

Berserah Diri dengan tulus ikhlas dalam setiap aspek adalah kondisi dimana seseorang bersedia diatur sepenuhnya oleh Allah (menjadi budak Allah Ta’ala), tidak mengatur dirinya sendiri dengan hawa nafsu dan syahwatnya. Ajaran (Ad- Diin) yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah Ad-Diin Berserah Diri kepada Allah Ta’ala untuk itulah dinamakan Ad-Diin Al Islam. Ikhlas menyerahkan diri kepada Allah dan muhsin, itulah Ad-Diin yang paling baik.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Q.S. 4:125)

Berserah Diri kepada Allah Ta’ala dan muhsin, maka ia telah berpegang teguh kepada Allah Ta’ala.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Q.S. 31:22)

Keberserahan diri kepada Allah Ta’ala ditopang oleh empat sendi utama, yaitu: Sabar, Syukur, Tawakal dan Ikhlas. Bagaimana mungkin seorang akan menjadi seorang muslim yang utuh, apabila qalbunya tiada pernah bersabar atas segala masalah hidupnya? Selalu mengeluh dan tiada pernah bersyukur terhadap segala hal yang Allah berikan kepadanya?


GOLONGAN YANG SELAMAT MENURUT HADITS RASULULLAH

Dari Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash r.a :

“Telah bersabda Rasulullah SAW : ” Sungguh-sungguh akan datang atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani Israil orang yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada diumatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat. Para shahabat bertanya: “Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: ” yaitu golongan yang mengikuti Aku ada padanya pada hari ini dan yang mengikuti para Sahabatku.”

Hadits ini diriwayatkan lengkap oleh Tirmidzi, diterangkan pula oleh Hakim juz yang pertama, Ibnu Wadhoh, Imam Al-Azurri dalam kitabnya As- Syari’ah, Ibnu Nasr Al-Marwaji dalam kitabnya As- Sunnah Al-Laalikai, Abdul Qahir Al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Faruq bainal Firaq) Hadits ini dikatakan oleh Tirmidzi HASAN GHARIB, Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi bukan karena secara sanad shahih, tetapi menghasankan karena Syawahidnya yang banyak. Hadits ini HASAN.

Dari Sahabat Abu Hurairah r.a : “Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, dan Nasrani telah berpecah menjadi 72 golongan, dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan.” (Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Azzuri, Hakim, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Abi Asim)

Dan Tirmidzi berkata hadits ini HASAN SHAHIH. Hakim berkata SOHIHUN ala Shahih Muslim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi.

Dari Sahabat Auf Bin Malik r.a : “Yahudi berpecah menjadi 71 golongan, 1 masuk sorga dan 70 masuk neraka. Dan Nasrani berpecah menjadi 72 golongan, 71 masuk neraka dan 1 masuk sorga, Dan demi yang diri Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya umatku sungguh-sungguh akan berpecah menjadi 73 golongan, 1 di sorga dan 72 di neraka; kemudian sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapa mereka yang selalu satu itu yang masuk dalam surga (Wahidatun Fil Jannah)?, dijawab oleh Nabi SAW, yaitu ‘Al-Jama’ah‘” (Ibnu Majah, Ibnu Abi Asim dalam As-Sunnah, Imam Al-Laalikai)

Hadits ini di SHAHIH-kan oleh para ulama.

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu berpengang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat adalah tempatnya di dalam Neraka).” (H. R. Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih).

Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lainya. Al-Hafidz menggolongkannya hadits hasan)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para shahabatku meniti di atasnya.” (HR. Ahmad dan yang lainya. dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219).

Dari keterangan diatas, pola apa yang terlihat? Di masa yahudi, dari 71 golongan, 70 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa berikutnya, Nasrani, dari 72 golongan, 71 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa selanjutnya, dari umat Rasul SAW terbagi menjadi 73 golongan, 72 tidak selamat dan 1 selamat. Lihatlah, betapa di setiap pergantian ajaran kenabian selalu bertambah satu golongan yang tidak selamat, sedangkan yang selamat tetap satu saja.


Golongan yang selamat menurut hadits Rasululah.

Sesungguhnya satu golongan yang selamat sejak dulu Yahudi, Nasrani dan Umat Muhammad SAW adalah sama. Tidak berubah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah langsung ke Qalbu, sehingga terpimpin ke Shiraath Al Mustaqiim.

Kenapa setiap pergantian ajaran Nabi bertambah satu golongan? Karena satu golongan itu adalah golongan yang hanya menjadi merasa bangga dengan formal golongannya, tetapi substansi ajaran agama Ilahi dilupakannya atau tidak dikenalnya.

Satu golongan yang selamat adalah Al Jamaah, merekalah yang Rasulullah SAW dan sahabat berada di atasnya. Secara eksplisit dalam Al Qur’an dikatakan merekalah orang yang berada di atas Shiraath Al Mustaqiim, siapapun ia dan darimana pun asal (nama) jamaahnya.

Yang selamat bukanlah nama sebuah jamaah, apakah tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU, atau apapun namanya. Siapapun orangnya, apakah berasal dari Tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kalaulah ia mendapat petunjuk langsung dari Allah dan terpimpin ke Shirath Al Mustaqiim, maka dia termasuk dalam Al Jamaah.


Al-Jama’ah

Karakter mereka sejak zaman Adam, Yakub, Musa, Isa, Muhammad adalah sama. Merekalah yang mencintai Allah lebih dari dunia. Merekalah orang-orang yang mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya (bahkan mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwat dirinya dalam ber-’agama’).

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (Q.S. 79:40-41)

Merekalah orang mati dalam keadaan berserah diri, al muslimuun).

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 2:132)

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membedabedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada- Nya-lah kami menyerahkan diri. (Q.S. 3:84)

10 November 2009

TAUBAT

Apakah Makna ‘Taubat’ itu?

Sahabat sekalian, jika jauh di dalam qalbu anda sudah ada ada kebutuhan untuk mencari Allah, ingin tenteram, ingin mengetahui agama lebih baik, atau gelisah mencari kesejatian, maka ketahuilah bahwa Allah masih berkenan memanggil anda untuk bertaubat.

Taubat sesungguhnya merupakan panggilan Allah. Manusia sama sekali tidak bisa membuat dirinya sendiri ingin bertaubat. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan bertaubat di dalam kalbu anda.

Sebagaimana firman-Nya:

“Kemudian Tuhan memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS 20:122)

“Barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mempu menempuh jalan itu kecuali bila dikehendaki Allah.” (QS. 76:29-30)

“…Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat mengendaki (menenempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 81: 28-29)



Keinginan Taubat

Keinginan taubat itu timbul karena dipilih-Nya. Maka dari itu, jika sekarang dalam hati anda mulai tumbuh kegelisahan makna hidup, atau keinginan kembali kepada-Nya, mulai timbul keinginan akan ketentraman bersama-Nya, mulai ingin mencari jalan-jalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya, Itu adalah panggilan-Nya. Maka sambutlah panggilan-Nya itu.

Jika kemudian mulai tumbuh perilaku kita yang ‘mencari jejak-Nya’, seperti mencari-cari pengajian yang baik, mencari-cari bahan di internet, mulai mencari-cari buku tentang Tuhan dan agama, maka syukurilah. Ini berarti bahwa Dia masih mengingat anda. Dia masih memanggil anda untuk mendekat, untuk pulang kepada-Nya. Dia masih menghendaki anda kembali kepada-Nya. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan ini dalam hati anda.

Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan ini. Jangan abaikan panggilan-Nya ini. Jangan sampai dia merasa panggilan-Nya kita abaikan. Karena sebagaimana kita pun, jika orang yang kita harapkan terus mengabaikan kita, lama-kelamaan kita pun akan melupakan orang itu. Camkanlah, bahwa tidak setiap orang akan dipanggil-Nya. Tidak setiap orang terpilih untuk ditaubatkan-Nya. Sangat sedikit orang yang ditumbuhkan keinginan untuk mulai mencari Allah di dalam hatinya.

Perhatikanlah, bahwa amat banyak orang mencari pengajian dengan niat mencari kawan, mencari kelompok, mencari pengakuan orang lain sebagai ‘orang pengajian’, mencari ketentraman sesaat, meniti karir di partai politik, mencari hapalan dan pengetahuan ayat, mencari bahan diskusi, dan sebagainya. Sangat sedikit, sekali lagi sangat sedikit, orang yang benar-benar mencari pemahaman akan hakikat hidup maupun kesejatian (Al-Haqq).

Jika kita tidak mau bertaubat, tidak mengindahkan panggilan-Nya itu, maka kita termasuk orang yang zalim. Definisi ‘zalim’, menurut Al-Qur’an, adalah tidak mau bertaubat.

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

Jika panggilan-Nya ini kita abaikan, maka kita akan semakin berputar-putar saja di dunia ini, dan kalbu kita akan semakin buta saja. Oleh karena itu, akan semakin susah sajalah kita memperoleh petunjuk-Nya, ketika kalbu kita menjadi buta.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS 20:124)

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah qalb-qalb (quluubun) yang ada di dalam dada.” (QS 22:46)



Apakah ‘Taubat’ ?

Apakah ‘taubat’ itu? Taubat bukanlah istighfar. Hanya semata mengucapkan ‘astaghfirullah’, walaupun seribu kali, bukanlah taubat. Sebagaimana qur’an mengatakan,

“Karena itu beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya” (QS. 11:61).

Maka, dari ayat di atas, jelas nampak bahwa Istighfar dan taubat adalah dua hal yang berbeda.

Kata ‘taubat’ berasal dari kata ‘taaba’, artinya ‘kembali’. Taubat adalah sebuah ‘keinginan’, kegandrungan, kebutuhan akan Allah, maupun segala yang dapat membuat kita lebih mengenal-Nya. Oleh karena itu, landasan taubat adalah mencari Allah, mencari kesejatian, mencari hakikat kehidupan ini. Orang bisa saja mengucap istighfar ribuan kali sehari, tapi sama sekali tidak bertaubat.

Orang bisa zikir ribuan kali, dengan niat supaya cerdas, supaya sakti, supaya bisa mengobati, supaya karir bagus, supaya lulus ujian, macam-macam. Rajin shalat malam, supaya berwajah cerah dan cantik. Rajin puasa, supaya sehat, supaya tidak gemuk. Di mana Allahnya? Mungkin Allah kita tempatkan nomor dua atau tiga.

Maka dari itu, pertama sekali, kita murnikan niat kita dahulu. Kita niatkan semuanya hanya untuk kembali kepada-Nya (taubat), supaya semakin diberi-Nya petunjuk bagaimana taubat yang benar itu. Supaya diajari-Nya hakikat kehidupan ini.

Junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw mengucapkan do’a berikut ini, yang dibaca setiap kali Beliau selesai berwudhu:

“Allahummaj’alni minat-tawwabiin, waj ‘alni minal muthahhiriin.”

“Ya Allah, jadikan hamba termasuk ke dalam ‘At-Tawwabiin’ (mereka yang bertaubat), dan jadikan hamba termasuk ke dalam ‘Al-Muthahhiriin’ (mereka yang disucikan).”

Bahkan Rasulullah Saw pun masih memohon kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam golongan orang yang bertaubat. Bukankah Rasulullah telah suci, bebas dosa, dan telah dijamin surga oleh Allah ta’ala?



Makna ‘Zalim’

Jika kita tidak kembali kepada Allah (taubat), maka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zalim. Definisi ‘zalim’, menurut Al-Qur’an, adalah tidak mau bertaubat.

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

Padahal, Allah tidak akan pernah memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim. Ketegasan-Nya ini diulang berkali-kali dalam Al-Qur’an, sebagai peringatan supaya kita benar-benar memperhatikan hal ini.

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (2:258)”

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (5:151)

Demikian pula kalimat yang sama bisa kita temukan pada Q.S. 6:144, 9:19, 9:109, dan 28:50.

Maka dari itu, jika kita tidak bertaubat, tidak berusaha kembali kepadaNya, maka kita akan semakin sesat saja. Bahkan hal ini ditegaskanNya bahwa ia akan menyesatkan mereka yang zalim.

“Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim (14:27).”

Jika kita tidak bertaubat, kembali pada Allah, maka sudah barang tentu akan semakin jauh saja kita dari petunjuk-Nya. Hidup kita pun dengan sendirinya akan terlempar-lempar dari satu masalah ke masalah yang lainnya saja, jauh dari petunjuk-Nya.



Implikasi Ke’Mahapengampun’an Allah

Kita mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun. Tapi, Maha Pengampun terhadap siapa?

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. 20:82).

Allah Maha Pengampun pada yang bertaubat (saja). Jika kita bertaubat, kembali kepada-Nya, maka barulah asma ‘Maha Pengampun’ ada implikasinya terhadap kita. Jika kita misalnya dikenal sebagai orang yang pemaaf, tentu sifat pemaaf kita tidak ada implikasinya terhadap orang yang tidak kita kenal. Jadi, kepemaafan kita berlaku pada orang tertentu saja, tidak dengan sendirinya pada semua orang.

Demikian pula Allah. Dia Maha Pengampun (hanya) kepada mereka yang bertaubat. Kepada yang tidak bertaubat, walaupun dia dikenal dengan Maha Pengampun, tentunya tidak ada hubungannya. Ke-Maha Pengampunan-Nya tidak ada implikasinya sama sekali kepada mereka yang tidak bertaubat, kepada mereka yang tidak berusaha kembali kepada-Nya.

Jika kita hanya istighfar saja, maka belum tentu Allah Maha Pengampun kepada kita. Tapi jika kita bertaubat, kemudian memperbaiki diri, maka Allah Maha Pengampun kepada kita. Taubat –harus– diikuti dengan memperbaiki diri, supaya taubat kita diterima oleh-Nya.

Demikianlah yang kita lihat pada ayat-ayat berikut ini:

“Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 5:39)

“Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 24:5)

“Barangsiapa yang berbuat kejahatan diantara kamu karena kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 6:54)



Jalaluddin Rumi tentang Taubat

Sebagai penutup tulisan tentang taubat, mari kita hayati penggalan puisi hasil fana Jalaluddin Rumi di bawah ini:

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah
menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,

karena Aku-lah jalan itu.”

Wallahu ‘alam, Semoga bermanfaat.

21 Oktober 2009

RAHASIA KHUSYUK

SEORANG AHLI IBADAH BERNAMA ISAM BIN YUSUF, DIA SANGAT WARAK DAN SANGAT KHUSUK SOLATNYA. NAMUN DIA SELALU KHUATIR KALAU-KALAUIBADAHNYA KURANG KHUSUK DAN SELALU BERTANYA KEPADA ORANG YANG DIANGGAPNYA LEBIH IBADAHNYA, DEMI UNTUK MEMPERBAIKI DIRINYA YANG SELALU DIRASAKAN KURANG KHUSUK.

PADA SUATU HARI, ISAM MENGHADIRI MAJILIS SEORANG ABID BERNAMA HATIM AL-ISAM DAN BERTANYA : "WAHAI ABA ABDURRAHMAN, BAGAIMANAKAH CARANYA TUAN SOLAT?"

HATIM BERKATA : "APABILA MASUK WAKTU SOLAT AKU BERWUDHU' ZAHIR DAN BATIN."

ISAM BERTANYA. " BAGAIMANA WUDHU' ZAHIR DAN BATIN ITU?"

HATIM BERKATA, "WUDHU' ZAHIR SEBAGAIMANA BIASA, YAITU MEMBASUH SEMUA ANGGOTA WUDHU' DENGAN AIR. SEMENTARA WUDHU' BATIN IALAH MAMBASUH ANGGOTA DENGAN TUJUH PERKARA :

1. BERTAUBAT

2. MENYESALI DOSA YANG DILAKUKAN

3. TIDAK TERGILA-GILA DUNIA

4. TIDAK MENCARI/MENGHARAPKAN PUJIAN ORANG (RIYA)

5. TINGALKAN SIFAT BERBANGGA

6. TINGGALKAN SIFAT KHIANAT DAN MENIPU

7. MENINGGALKAN SIFAT DENGKI

SETERUSNYA HATIM BERKATA. "KEMUDIAN AKU PERGI KE MESJID, AKU KEMASKAN SEMUA ANGGOTA KU DAN MENGHADAP KIBLAT. AKU BERDIRI DENGAN PENUH KEWASPADAAN DAN AKU BAYANGKAN ALLAH ADA DI HADAPANKU, SYURGA DI KANANKU, NERAKA DI SEBELAH KIRIKU, MALAIKAT MAUT BERADA DI BELAKANGKU, DAN AKU BAYANGKAN PULA BAHWA AKU SEOLAH-OLAH BERDIRI DI ATAS TITIAN 'SHIRRATUL MUSTAQIM' DAN AKU MENGANGGAP BAHWA SOLATKU KALI INI ADALAH SHOLAT TERAKHIRKU, KEMUDIAN AKU BERNIAT DAN BERTAKBIR DENGAN BAIK.

SETIAP BACAAN DAN DOA DALAM SOLAT KUFAHAM MAKNANY, KEMUDIAN AKU RUKU' DAN SUJUD DENGAN TAWADHU', AKU BERTASYAHHUD DENGAN PENUH PENGHARAPAN DAN AKU MEMBERI SALAM DENGAN IKHLAS. BEGINILAH AKU BERSOLAT SELAMA 30 TAHUN."

APABILA ISAM MENDENGAR, MENANGISLAH DIA KARENA MEMBAYANGKAN IBADAHNYA YANG KURANG BAIK BILA DIBANDINGKAN DENGAN HATIM.

10 Oktober 2009

WATAK ASLI MUNCUL

Dony, pemuda yang sangat lugu, memasuki dunia thariqat sufi. Ia disarankan suluk (khalwat secara khusus di pemondokan Sufi) oleh gurunya, 41 hari, karena memang demikian aturannya.
Begitu gembira ia berangkat ke pesulukan Sufi di Jawa Timur, yang selama hidup belum pernah ia alami. Jangankan suluk, belajar di pesantren pun belum pernah ia lakoni. Semangat Dony berkobar penuh dengan kegembiraan.

Sembari menghitung waktu dari ibukota negeri ini, Jakarta, ia menunggu hari-hari keberangkatan dengan berdebar.

Sampai di Pesulukan, hatinya semakin berdebar, tarik menarik mulai muncul, antara harus menjalani Suluk 41 hari, dengan keinginan segera pulang ke Jakarta.

Hari pertama ia suluk, sudah tidak kerasan di pesulukan. Pikiran dan hatinya ingat Jakarta, keluarga dan anak-anaknya.
Dony coba menguatkan hatinya, tapi tak mampu. Lalu berkemas-kemaslah manata pakaiannya untuk dimasukkan kopor, dan esok hari niat pulang ke Jakarta.

“Saya mau pulang Mas..” pintanya pada pengurus pondok.
“Lho, kenapa?”
“Saya nggak kuat…”
“Tanya guru dulu sebelum kamu balik ke Jakarta…”
Dony menelpon gurunya, tapi dapat jawaban yang lebih mencekam hatinya.
“Kalau kamu besok pagi pulang, nanti kalau kembali lagi malah saya tambah jadi 81 hari…”

Dony sam’an wa-tha’an (manut saja), tetapi setiap hari ia ingin pulang dan setiap hari pula ia mengemas pakaiannya untuk masuk di kopernya. Situasi demikian berlangsung sampai dua belas hari. Hingga Dony popular di pesulukan itu kalau wiridnya Dony adalah mengeluarkan dan memasukkan pakaian ke kopornya setiap hari.
“Kamu akan menjadi orang peragu, dan skeptis selamanya kalau kamu begitu terus. Kamu di sini diajari supaya jadi orang yang punya rasa yaqin…”

Begitu saran sahabatnya sesama pesuluk. Dan Dony agak terjengah. Akhirnya Ia kunci kopornya lalu ia buang kuncinya.
Mulai saat itu hatinya tenang, tidak lagi ingat Jakarta, keluarga dan anak-anaknya.
“Kenapa saya menjadi peragu seperti itu kemarin ya Kang?” tanyanya pada sahabatnya itu.
“Ya seluruh kebiasaan hatimu akan muncul di sini. Di Jakarta kamu pasti seorang peragu….Sekarang sudah keluar semua hawa nafsumu itu …”
Dony hanya termenung saja sembari menunggu hari-hari yang hendak dilalui di pesulukan itu.

Pertama kali memasuki dunia pesulukan, Ustadz Tony, mulai bingung. Setiap ketemu orang pasti ia ceramahi. Setiap ada orang sedang nggerombol ia nimbrung, ia ceramahi tentang dunia Sufi.
Tapi lama-lama ia mulai menyadari, kenapa sahabat satu pesulukan ada yang selalu pamer kadigdayan, kesaktian dan ilmu-ilmu hikmah di sana. Benar-benar kisah seorang pendekar dengan segala tantangannya.

Ada lagi yang diam saja seribu bahasa, tak pernah bicara kecuali seperlunya. Ada lagi sampai di pondok langsung teriak-teriak, ngomel di sana sini, kurang ini, kurang itu, hawa panas, fasilitas kurang dan lainnya.

Ada yang mojok sendirian saja sambil ngelamun, entah kemana pikirannya. Ustadz tony mulai menyadari ada gejala apa ini? Kenapa malah begini di sini, kenapa gejolaknya naik turun?
Diam-diam Ustadz Tony tidak lagi mau menceramahi kawan-kawannya. Diam-diam ia mulai merasa malu dengan dirinya. Seiring itu pula,macam ekspressi dan watak yang biasa muncul dari kawan-kawan pesulukan mulai mengalami evolusi ruhani. Rupanya ia menyadari bahwa , dan setiap hari Ustadz Tony malah jadi orang yang setengah waras, setengah gila, karena setiap hari ia tertawa sendiri. “Weh..weh di sini kayak di Mekkah saja…sifat aslinya pada nongol, termasuk diri saya…he he he..” gumannya.

Tertawanya semakin meledak kalau ia mengingat kisah sayyidina Umar yang tertawa-tawa sendiri dan menangis, jika ingat di masa Jahiliyah dulu. “Di pesulukan ini seluruh ilmu dan amal masa lalu harus lepas…!” hanya itu kata yang selalu diingat dari sesama pesuluk. Dan malah tawanya meledak.

27 September 2009

Jalan Istiqomah

Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Diriwayatkan oleh Ummu Habibah ra, ia berkata, bahwa Rasulullah saw, bersabda:
“Tak seorang pun hamba yang muslim, sholat Lillahi Ta’ala setiap hari dua belas rekaat, sholat sunnah, bukan sholat fardlu, kecuali Allah

membangunkan rumah di dalam syurga.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’y).

Hadits ini memotifasi untuk menegakkan ibadah-ibadah sunnah, karena ibadah sunnah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah Ta’ala, sekalgus menjadi bekal kaum ‘arifun dalam menempuh jalan mneuju kepada Allah swt. Sekaligus menjadi perilaku kaum yang mengkhususkan (menyendiri) jiwanya di sisi Allah swt.
Anak-anak sekalian! Ketahuilah siapa yang hakikat batinnya menyendiri bersama Allah secara total, dan rahasia sirrnya benar-benar manunggal, akan terbuka seluruh tirai, segala bukti menjadi nyata, ketika musyahadah pada Cahaya Al-Haq Allah swt.
Di sanalah ia Allah menuangkan minuman dengan gelas CintaNya, hingga ia mabuk dari lainNya, segalanya menjadi riang nan ringan. Segala diamnya adalah dzikir, nafasnya adalah tasbih, kalamnya adalah penyucian, dan tidurnya adalah sholat (do’a). Sang hamba senantiasa menaiki kendaraan ma’rifat, hingga bertemu Yang Dima’rifati. Bila sudah bertemu, ia abadi selamanya bersamaNya, tidak berpaling ke lainNya.
Qalbu itu ibarat istana, dan ma’rifat adalah rajanya, akal adalah menterinya yang punya department dan instrument. Lisan sebagai penerjemah, sedangkan rahasia batinnya dari khazanah Ar-Rahman. Masing-masing konsisten dengan posisinya, sedangkan arah seluruhnya adalah istiqomahnya sirr bersama Allah swt.

Bila Sirr istiqomah, maka ma’rifat menjadi istiqomah, lalu akal menjadi lurus. Bila akal konsisten, qalbu akan konsisten. Bila qalbu konsisten, jiwa akan konsisten. Bila nafsu konsisten (dalam pengendalian), perilaku batin akan konsisten.
Sirr dicahayai oleh Sifat Jamal dan JalalNya. Akal dicahayai oleh cahaya kesadaran dan renungan pelajaran. Qalbu dicahayai oleh cahaya rasa takut dan cinta disertai kontemplasi fikiran.

Nafsu dicahayai dengan cahaya olah jiwa dan pengekangan.
Sirr adalah lautan dari samudera anugerah pemberianNya, dan gelombangnya tak terhingga, tiada henti pula. Jika Sirr konsisten bersama Allah swt, maka senantiasa akan abadi dalam musyahadah, dan sirna dari penglihatan pada Istiqomahnya.
Perlu diketahui bahwa Jalan Istiqomah (konsistensi) itu laksana tenda agung dari jalan akhirat, dan berjalan di tepinya lebih sulit disbanding jalan di tepian akhirat. Alam rahasia bias menjadi tipudaya, karena Allah swt tidak suka pada hati hamba yang masih ada cinta pada yang lain selain Dia.
Mereka tidak ingin sesuatu dari Allah kecuali Allah. Dalam sebagaian kitabNya Allah Ta’ala berfirman : “Bila yang kesibukan jiwa hambaKu lebih kepadaKu disbanding yang lain, maka Kujadikan nikmat dan hasrat ada dalam mencintaiKu, dan Aku singkapkan hijab antara diriKu dengan dirinya.” Ada seseorang sedang masuk dalam tempat Syeikh Sary as-Saqathy, lantas lelaki itu bertanya, “Manakah yang bias mendekatkan pada Allah Ta’ala, hingga sang hamba bias mendekat kepadaNya?”
Maka As-Sary menangis, lalu berkata, “Orang seperti anda ini masih bertanya seperti itu? Yang paling utama cara mendekatkan hamba kepada Allah Subhanahu wa-Ta’ala, hendaknya Allah swt, muncul di hatimu, dan anda tidak mau sama sekali pada dunia dan akhirat, kecuali hanya padaNya.”

Ibrahim bin Adham ra mengatakan, “Puncak dari hasrat dan citaku dalam hubunganku dengan Allah Ta’ala adalah, hendaknya Dia menjadikan diriku condong terus kepadaNya, hingga aku tak memandang apa pun selain Dia, dan aku tidak sibuk dengan siapa pun selain sibuk denganNya, aku tak peduli Dia jadikan diriku jadi debu, atau hilang sama sekali.”

Nabi Ibrahim as, pernah ditanya, “Dengan cara apa anda dapatkan keakraban dengan Allah Ta’ala?” “Dengan memutuskan diriku hanya kepada Tuhanku, dan pilihanku kepadaNya dibanding lainNya, serta aku tidak pernah makan kecuali bersama tamuku.”
Rabi’ah al-Bashriyah ra mengatakan :
“Oh Tuhanku, hasratku di dunia dan di akhirat nanti hanya mengingatmu, dan hasratku di akhirat dari akhirat hanya memandangMu, maka lakukanlah antara keduanya sekehendakMu.”
Abu Yazid al-Bisthamy ra menegaskan, “Rahasia batinku naik menuju Allah swt, lalu terbang dengan sayap ma’rifat dengan cahaya kecerdasan di cakrawala Wahdaniyah (KemahatunggalanNya). Tiba-tiba nafsu menghadapku dan berkata, “Kemana kau pergi? Akulah nafsumu dan engkau harus bersamaku.” Namun rahasia batinku (sirr) sama sekali tidak menoleh padanya.

Kemudian makhluk-makhluk lain menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana kau pergi? Kami adalah teman dan tempat curhatmu, engkau harus bersama kami, demi solidaritas padamu!” Sirrku sama sekali tidak menoleh.
Lantas syurga dengan segenap isinya menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana engkau pergi? Engkau itu bagiku dan engkau harus di sini denganku.” Maka sirrku sama sekali tidak berpaling.

Lalu anugerah dan pemberian menghadapku, begitu juga karomah-karomah, hingga melewati kerajaanNya, sampai pada kemah Fardaniyah (KetunggalanNya), lantas melampaui universalitas dan keakuan, hingga sirrku sampai di hadapan Allah swt. Dialah yang kucari!”
Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa! Sesungguhnya orang yang menjumpaiKu pasti tidak akan kembali dariKu, dan tidak akan kembali kecuali dari Jalan (lurusKu).” Abul Abbas nin Atha’ ra, mengatakan, “Manakala akhirat muncul dalam diri hamba, dunia menjadi sirna di sisinya, sehingga sang hamba hanya menetap di negeri keabadian. Namun manakala sang hamba berada dalam penyaksian Allah Ta’ala, segala hal selain Allah Ta’ala sirna, dan hamba abadi bersama Allah swt.” Ada lelaki di hadapan Abu Yazid ra, berkata, “Ada informasi sampai kepadaku bahwa engkau punya Ismul A’dzom, sangat senang jika engkau mengajariku.”
Abu Yazid menjawab, “Nama Allah itu tidak terbatas. Namun kosongkan hatimu hanya bagi KemahaesaanNya, meninggalkan berpaling pada selain Allah Ta’ala. Jika anda bisa demikian, raihlah Ism (Nama) mana pun yang kau kehendaki, maka dengan Isim itu anda bisa pergi dari timur hingga barat, dalam sekejap dan anda telah kembali.”

Dzun Nun al-Mishry ra, mengatakan, “Ketika aku naik haji, tiba-tiba ada anak muda mengatakan : “Oh Tuhanku, aku telah mengumpulkan tebusanMu, dan engkau Maha Tahu, lalu apa yang Engkau berlakukan pada mereka?”
Lalu kudengar suara : “TebusanKu banyak, dan yang mencariKu sedikit.” Sebagian Sufi ditanya, “Seberapakah antara Allah swt dan hambaNya?” “Empat langkah saja: Satu langkah meninggalkan dunia; satu langkah meninggalkan makhluk; satu langkah meninggalkan nafsu; dan satu langhkah meninggalkan akhirat, maka sang hamba sudah dihadapan Allah swt.” Jawabnya.
Sarry ra berkata, “Siapa yang bangkit untuk taat kepada Allah Ta’ala tanpa ada yang lain, Allah akan memberi minuman dari mata air cinta dariNya, dan dihantar menuju tempat yang benar.”

Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah mengatakan, “Orang arif manakala keluar dari dunia tak ada pemandu maupun penyakdi di hari kiamat, tidak ada Malaikat Ridlwan di syurga, juga tidak ada Malaikat Malik di neraka.”
Beliau ditanya, “Lalu dimana sang arif di jumpai?”
“Di hadapan Allah Yang Maha Diraja, di tempat yang benar. Ketika mereka bangkit dari kuburnya mereka tidak bertanya-tanya, “Mana keluarga dan anakku? Mana Jibril dan Mikail? Mana syurga dan pahala?” Namun justru berkata, “Manakah Kekasihku dan kemesraan hatiku?”
Qalbu kaum airfin punya mata Yang memandang apa yang tak biasa dipandang manusia Sedangkan lisannya berkata dengan rahasia batinnya
munajat dari malaikat-malaikat mulia di sisiNya yang mencatat :
Sayap-sayap yang terbang tanpa bulu
Hinggap di sisi Rabbul ‘alamin.
Lalu bagai gembalaan di taman suci menari
Dan meminum dari lautan para RasulNya
Para hamba yang menuju kepadaNya
Hingga mendekat, sampai bertemu denganNya.

Musibah Batin: Hijab

Syeikh Ahmad ar-Rifa'y
Sesungguhnya Nabi saw, bersabda:
“Perbuatan-perbuatan baik bisa menjaga serangan keburukan, dan sesungguhnya sedekah rahasia itu bisa meniup api amarah Tuhan, dan sebgenarnya sillaturrahim itu menambah usia dan menghapus kemiskinan.” (Hr Thabrani)
Dalam hadits yang mulia ini ada pelajaran aklaq mulia, dimana kaum arifin membubung menuju Rabbnya. Sebab asas dari ma’rifat adalah Makarimul Akhlaq (semulia-mulianya akhlaq), sedangkan akhlaq buruk, adalah – na’udzubillah – adalah wujud terhijabnya rahasia batin dari Allah Ta’ala.

Anak-anakku sekalian. Diantara musibah rahasia batin terbesar adalah terhijabnya kita dari Allah swt. Maka siapa pun yang mendapatkan musibah seperti, pada dasaranya ia telah menggabungkan musibah-musibah lainnya. Sang pecinta itu senantiasa mabuk Ilahi, sang pemabuk tak akan merasakan derita musibah ketiba mabuk , baru disaat sadar merasakan deritanya.
Musibah terhijab dari Allah swt tak bisa diganti atas kehilangannya selamanya, kecuali dengan menepiskan segala hal selain Allah swt, dari rahasia batin kita. Tak ada ancaman lebih serius di dalam Al-Qur’an dibanding ayat ini:
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.”

Betapa banyak orang yang taat tetapi terhijab dari Yang Ditaati (Allah swt.). Betapa banyak orang yang dapat nikmat tapi terhijab dari Sang Pemberi nikmat. Betapa banyak orang yang tidur, diberi rizki kesadaran bangun ketika ia sedang tertidur. Betapa banyak orang yang sadar tertidur justru setelah ia bangun. Betapa banyak orang yang pendosa, justru diberi rizki kewalian dan meraih derajat Abrar. Betapa banyak orang zuhud yang gugur dari wilayahnya, dan menempuh jalan pendosa.

Hijab Itu Siksa Jauh Dari Allah SWT

Betapa banyak ahli amal yang terhijab gara-gara melihat amalnya, jauh dari memandang anugerah Allah swt, hingga matahatinya buta, lalu ia terlempar jauh, sementara ia menduga dirinya telah sampai (wushul) kepada Allah swt. Dan tidak ada yang lebih mengerikan dimata orang arif disbanding hijab itu sendiri, walau sekejab mata. Padahal siksa Allah swt, terbesar pada hamba adalah Hijab dan Terjauhkan dariNya.

Salah seorang hamba Allah swt, dikisahkan sedang bermunajat:
“Oh, Tuhanku, sampaikan kapan aku maksiat kepadaMu, sedangkan Engkau tak pernah menyiksaku?”. Kemudian Allah swt, menurunkan wahyu kepada sorang Nabi di kala itu, “Katakan kepadanya: “Sampai kapankah Aku menyiksamu, sedangkan kamu tidak mengerti? Bukankah engkau telah Aku tutup dari kelembutan-kelembutan kebahagiaanKu? Bukankah Aku telah mengeluarklan kemanisan munajat kepadaKu dari hatimu?!”

Abu Musa ra, pelayan Abu Yazid ra, mengatakan, “Suatu hari Syeikh abu Yazid memasuki suatu kota, kemudian massa banyak datang berjubal mengikutinya. Ketika abu yazid melihat mereka dan berjubalnya mereka, beliau mengatakan. “Ya Allah aku mohon perlindungan kepadaMu dari terhijab padaMu karena mereka. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari hijabMu atas mereka, karena gara-gara aku.”
Semoga Allah merahmatinya, betapa banyak kesadaran itu, dan betapa benarnya Abu Yazid dengan Tuhannya, betapa besarnya kasih saying Abu Yazid pada sahabat-sahabatnya kaum muslimin.Ia menginginkan kebajikan dan pandangan yang benar bagi mereka, sebagaimana pada dirinya.
Ingatlah! Hai orang yang bergaul dengan massa, dan massa yang fanatik kepada anda. Hati-hati! Betapa banyak ketukan-ketukan sandal di sekitar tokoh sirna dari kepalanya? Betapa banyak hilang agamanya? Ya Allah selamatkan, Ya Allah selamatkan!

Manusia terbagi menjadi empat golongan:

Ada orang yang yang hatinya memandang tajam, dengan pandangan cahaya yaqin atas rahasia ciptaanNya dan keparipurnaan KuasaNya.
Ada orang yang yang akalnya tajam, memandang dengan cahaya kecerdasannya pada janji dan ancamanNya.
Ada orang yang rahasia batinnya (sirr) tajam, memandang setiap saat dengan cahaya ma’rifat kepada Allah swt.
Ada orang yang dijadikan oleh Allah swt, tertutup, tidak sama sekali bisa memandang, dan inilah yang disebut dalam ayat: “Dan siapa yang buta mata hatinya di dunia ini, maka di akhirat lebih buta dan lebih sesat jalannya.”
Ingatlah:
• Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
• Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa.
• Ahli ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya.

Bila Allah swt, menghailangkan hijab-hijab ini, mereka akan memandang dengan mata cahaya menuju cahaya, maka pada saat itulah mereka terhijab dari segala hal selain Allah swt.
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhijab dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhijab dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.

Terkadang seseorang terhijab dari manisnya ibadah, melalui memandang ibadahnya. Terkadang seseorang terhijab dari kebenaran kehendak, karena memandang manisnya ekstase.

Terkadang seseorang terhijab dari memandang Allah swt, Sang Pemberi anugerah, karena memandang anugerah itu sendiri.
An-Nasaj ra, mengatakan:
- Siapa yang memandang dirinya dalam ibadahnya, berarti tidak bisa bersih dari ujub!
- Siapa yang mermandang makhluk, ia tak akan bersih dari riya’!
- Siapa yang memandang taatnya, tak akan bersih dari tipudaya!
- Siapa yang memandang pahala tak akan pernah bersih dari hijab!
- Siapa yang memandang Rabb Ta’ala, maka itulah berada dalam posisi yang benar di sisi Tuhan Diraja Yang Kuasa.”

Abu Bakr bin Abdullah ra mengatakan, “Siapa yang sibuk dengan nuansa hikmah dan rahasia-rahasianya, maka ia akan terhijab dari hakikatnya. Dan aku tak pernah diperlihatkan maksiat yang lebih bahaya ketimbang melupakan Allah swt. dan penggantungan hati pada selain Allah swt.”
“Setiap hasrat dan dzikir pada selain Allah Ta’ala adalah hijab antara dirimu dengan Allah swt.”

Dalam hadits disebutkan:
“Betapa banyak kebajikan yang dilakukan seseorang yang tak ada keburukan baginya, justru lebih berbahaya padanya disbanding keburukan itu sendiri. Dan betapa banyak keburukan yang dilakukan seseorang yang tak ada kebajikan padanya, justru lebih bermanfaat padanya dibanding kebajikan itu sendiri.”

Maksudnya: “Kebajikan itu sebenarnya terpuji, dan keburukan itu tercela. Namun sepanjang seorang hamba dalam berbuat kebajikan masih melihat kebajikannya, maka ia berada di medan pamer dan kebanggaan. Dan sepanjang hamba dalam keburukan, namun ia masih melihat keburukan itu, berarti ia berada di medan remuk redam dirinya dan merasa sangat butuh padaNya. Padahal kondisi hamba dalam situasi sangat butuh pada Allah itu lebih baik.”
Abu Bakr as-Shiddiq ra mengatakan, “ Ya Allah aku mohon berlindungan padaMu dari syirik tersembunyi.” Sedangkan Rabi’ah ra, menegaskan, “Dunia telah menutupi penghuninya dari Allah swt. Seandainya mereka meninggalkannya pastilah tampak di alam malakutnya, lalu ia kembali dengan sariguna yang berfaedah.”

Sayyid Manshur ar-Rabbany ra, menegaskan, “Dengan apa sang hamba dikenal bahwa ia tidak terhijab dari Tuhannya?”. Ia menjawab, “Jika ia mencariNya dan ia tidak menuntut apa pun dariNya. Hamba menghendakiNya dan ia tidak berkehendak sesuatu dariNya. Dan Dia tidak memilih, karena menyerahkan pilihan padaNya, walau pun dipilihkan neraka oleh Allah swt. padanya.”

“Setiap orang yang di dalam hatinya tidak ada penetrasi Kharisma Ilahi, tidak ada cahaya cinta padaNya, tidak ada kemesraan kebersamaan denganNya, maka ia terhijab.” Tandasnya.

Katanya pula:

Cukuplah buatmu ma’rifat itu, manakala engkau tahu bahwa Allah swt memandangmu. Dan cukuplah ibadah itu, bila Allah swt itu tidak butuh padamu.
Cukuplah cinta itu bagimu, jika engkau tahu bahwa CintaNya mendahului cintamu padaNya.
Cukuplah dzikir bagimu, bahwa DzikirNya mendahului dzikirmu.
Hati ketika dilanda Kharisma Ilahi, segala hal berbau syahwat sirna.
Ketika hati di hamparan ma’rifat, segala hal kealpaan sirna.
Hati ketika didudukkan pada tempat Ketunggalan dengan Tunggal bagi Yang Tunggal, itulah tempat duduk yang benar.

TIGA PILAR ISLAM

Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Muslim dinyatakan bahwa agama Islam itu meliputi tiga pilar, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan. Sabda Rasullah SAW : “dari Saidini Umar bin Khatab r.a, beliau berkata, “Pada suatu hari katika kami bersama-sama Rasulullah SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa dia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu.
Dia duduk berhadapan dengan Nabi dengan mangadu lututnya dengan lutut Nabi dan meletakkan tangganya di atas pahanya, lalu dia bertanya, “Wai muhammad, coba ceritakan kepadaku tetntang Islam. Nabi menjawab, “Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selali Allah dan Muhammad itu Rasullah, engkau kerjakan salat, engkau kerjakan zakat, engkau lalkukan puasa bulan Ramadhan, engkau naik Haji kalau kuasa.”
Laki-laki itu menjawab, :Benar”.
“ Kami heran”, Kata Umar bin Khatab. Dia bertanya dan dia pula yang membenarkan.
Lalu dia bertanya lagi,”Coba ceritakan tentang Iman!”
Nabi menjawab,” Iman ialah supaya engkau percaya kepada Allah, MalikatNya, RasulNya, hari akhirat dan percaya dengan takdir baik dan buruknya”.
Di mnjawab, “Benar”
Dia bertanya lagi,”Apa Ihsan itu?”
Nabi menjawab,”Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya maka dia melihat akan engkau.”
Dia bertanya lagi,”kapan hari kiamat?”
Nabi menjawab,”yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya.”
Di bertanya lagi,”Coba ceritakan tanda-tandanya! Kalau sudah melahirkan budak akan penghulunya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si pengemmbala kambing yang miskin.”
Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Saidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami,”hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu?”
Jawab saya,”Tuhan Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi menjelaskan, “itulah Malaikat Jibril, dia datang untuk mengajarkhan agammu.”(H.R. Imam Bukhari dan Muslim, Syarah Muslim I hal. 157-160).

Dari hal diatas maka disini penulis menjelaskahan bahwa Pilar Islam itu ada 3 Islam, Iman dan Ihsan, tetpi disini penulis tidak akan menjelaskahan tentang Iman dan Islam, karna itu telah bakyak kita ketahui dan buku-buku terbitan dan karya-karya para pemikir sudah banyak dan tinggal kita cari, baca dan kita pahami. Disini penulis mencoba menguraikah pilar Islam yang ketiga yaitu Ihsan, disini penulis mengutip dari buku karya Prof.DR.K.H. Djamaan Nur.

IHSAN

Ihsan itu sasaranya adalah batin rohaniyah. Batin rohaniah seseorang yang beribadah harus bersih sehingga membuahkan ubudiah yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Ilmu yang membahas tentang itu adalah Ilmu Tasawuf dan Tarekat. Didalam hadis tersebut, Ihsan itu artinya kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah berada dihadapan kita, atau kita merasakan dan mengi’tikadkan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan kita.
Termasuk dalam kajian Tasawuf adalah segala usaha dan ikhtiar untuk berakhlakul karimah, beribadah yang khusuk, dengan cara mujahadah terus menerus dengan cara atau metode tertentu, sehingga diri rohani kita menjadi bersih, dapat dekat kepada Allah SWT, guna memperoleh ridla dan Nur Uluhiyah-Nya.

Dengan demikian Ihsan itu merupakan suatu Maqam, dimana seseorang melaksanakan syariat dan dijiwai dengan hakikat syariat itu sendiri, sehingga dia memperoleh ma’rifah terhadap Allah SWT. Pada bagian lain, pakar tasawuf mengatakan ihsan itu adalah ajaran muraqabah, tahalli dan tajalli.

Ada 11(sebelas) tempat Allah menyebutkan kata ihsan dalam Al Qur’an dengan berbagai konteks dan 40 (empat puluh) tempat menggunakan kata itu sebagai pelaku ihsan, yaitu muhsin.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan (Q.s. An Nahl 18:90).

Saidi Syeh Sulaiman Zuhdi seorang tokoh sufi dari kalangan Tarikat Naqsyabandiyah, menafsirkan ayat ini dalam konteks hadis Jibril riwayat Bukhari Muslim tersebut diatas tadi, bahwa pelaksanaan ihsan wajib hadir Allah SWT secara Maknawi pada waktu kita melaksanakan ibadah. Hadirnya Allah dalam hati sanubari pada waktu seseorang beribadah tidak mungkin, kecuali terpenuhi 2(dua) syarat, yaitu, sucinya hati nurani dan ikhlasnya seseorang yang beribadah itu. Suci dan ikhlas itu tidak mungkin dicapai, kecuali melalui metode atau cara tertentu, yaitu Tasawuf dengan metode Tarikat yang agung. Oleh sebab itu menurut sebagaian besar pendapat ulama, bahwa Bertarikat merupakan kewajiban pertama setelah seseorang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Pendapat ini dikuatkhan oleh beberapa hadis sahih, termasuk beberapa hadits Qudsi yang dijelaskan panjang lebar dalam risalah beliau. (Sulaiman Zuhdi : 7-8).

Ihsan yang pelaksanaanya melalau Tasawuf dan Metode Tarikatullah dijadikan sebagai Moto Utama oleh para sufi. Tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui akidah (keimanan), pengamalan syariat Islam dan akhlak. Abdul karim al-jili tokoh sufi memasukkan ihsan sebagai salah satu ahwal atau maqam yang harus dilalui oleh sufi untuk mencapai derajat insan kamil.

Dalam buku-buku Tasawuf disebutkan bahwa Tasawuf itu adalah ilmu batin, ilmu rohani yang berpusat pada hati nurani. Ilmu fikih adalah ilmu zahir, ilmu yang membahas tentang masalah syariat dan rukun ibadah, sah dan batalnya ibadah, masalah kemasyarakatan dan lain-lain yang dikelola oleh akal, yang berpusat pada otak. Sering juga dikatakan bahwa ilmu Tasawuf itu ilmu hakikat, sedangkhan ilmu fikih itu dinamakan Ilmu Syariat. Melaksanakan suatu ibadah yang dapat menimbulkan ibadah yang ikhlas dan khusuk, itulah ibadah yang dapat menimbulkan ibadah yang ikhlas dan khusuk, sebab bersatu padanya syariat dan hakikat, serta bersatu pula padanya olahan otak dan hati.

Ketiga pilar tersebut tidak boleh dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi harus dilaksankan terpadu secara utuh dan bulat, sebab ketiga pilar itulah yang membuat menyatu menjadi agama Islam. Dengan penjelasan ini, jelas bahwa Taswuf itu adalah bagian dari agama Islam, tidak di luar Islam, bukan pula Bid’ah, syirik dan sebagainya.

Setelah Rukun Iman dan Rukun Islam itu terlaksana denganbaik, maka dia dilengkapi dan disempurnakan dengan amal-amal kabaikan yang lahiriyah, yang kita namakan ihsan. Ihsan disini dalam artian lahiriah melaksanakan amal-amal sunnah, seperti shalat-shalat sunat, puasa sunat, infaq, sedekah sunat, saling membantu dan berbuat kebaikan sesama umat. Ihsan dalam bentuk lahiriah ini, manakla dilandasi dan dijiwai dalam bentuk rohaniah batin, akan menumbuhkan keikhlasan. Beramal Ihsan yang ikhlas membuahkan takwa yang merupakan buah tertinggi dari segala amal ibadah kita.

Adapun hubungan antara iman dan islam itu laksana hubungan akar dengan batang pada suatu pohon. Pohon tidak akan berbuah kalau tidak ada akar, pohon tidak akan tumbuh kalau tidak ada akar. Adanya akar yang kuat dengan pohon yang sebur itulah yang mendatangkan buah. Apa artinya Rukun Iman, tanpa pelaksanaan Rukun Islam. Apa artinya pelaksanaan Rukun Islam, tnapa dilandasi Rukun Iman. Kedua-duanya tidak akan menghasilkan buah. Dengan jelas dan gamlang Allah SWT mengisaratkahan hubungan kedunya ini dalam firman-Nya :”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit. Pohon itu memberikan buah pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Q.S. Ibrahim 14:24-25).

Dalam kajian Tasawuf yang emnghubungkan Rukun Iman dengan Rukun Islam adalah Ihsan. Pelaksanaan rukun Islam harus dengan Ihsan yaitu dirasakan hadirnya Allah SWT pada waktu beribadah sehingga ibadah tersebut menjadi khusuk. Ibadah dengan ihsan itu akan berbekas dan berbuah. Demikian pulalah yang menghubungkan akar dengan batang dan sebaliknya, batang dengan akar dalam suatu pohon. Serapan dari akar didistribusikan kepda batang. Sebaliknya, serapan batang yang terdiri dari bahan, ranting dan daun akan didistribusikan pula kepada akar. Pohon tidak akan tumbuh dan subur tanpa adanya serapan itu.

Pros. Dr.H.S.S. Kadirun Yahya menyampaikan, bahwa kita jangan hanya pandai bercerita tentang maqam ihsan, dimana memang benar, pada maqam ihsan itu, tidak ada doa yang dotolak Allah SWT. Yang paling utama adalah, bagaimana cara menguasai pelaksanaan teknisnya, agar sampai mencapai maqam ihsan itu, dimana Allah SWT tidak akan menolak tiap-tiap doa dari hamba-Nya yang khalis mukhlisin, yang dikasihi, yang di dalam dadanya bersinar Nuurun’alaNuurin, barulah Allah SWT tergugah dan menurunkan Rahmat dan karunia-Nya.

Kita harus paham bahwa maqam ihsan adalah pada sisi Allah SWT di temapat yang jauh letaknya, diArasy yang tak terhingga jauhnya, mau tak mau harus ada yang membawa rohani kita ke situ yang mempunyai kapasitas yang tak terhingga pula, itulah dia Nuurun’ala Nuurin yang semestinya kita warisi dari Ruhani Rasulullah SWT. Semua itu termaktub dalam bidang Tasawuf dan Sufi, yang hanya dapat diuraikan dengan hukum-hukum teknologi modern, berdampingan dengan Al Qur’an dan Al Hadist