Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Muslim dinyatakan bahwa agama Islam itu meliputi tiga pilar, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan. Sabda Rasullah SAW : “dari Saidini Umar bin Khatab r.a, beliau berkata, “Pada suatu hari katika kami bersama-sama Rasulullah SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa dia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu.
Dia duduk berhadapan dengan Nabi dengan mangadu lututnya dengan lutut Nabi dan meletakkan tangganya di atas pahanya, lalu dia bertanya, “Wai muhammad, coba ceritakan kepadaku tetntang Islam. Nabi menjawab, “Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selali Allah dan Muhammad itu Rasullah, engkau kerjakan salat, engkau kerjakan zakat, engkau lalkukan puasa bulan Ramadhan, engkau naik Haji kalau kuasa.”
Laki-laki itu menjawab, :Benar”.
“ Kami heran”, Kata Umar bin Khatab. Dia bertanya dan dia pula yang membenarkan.
Lalu dia bertanya lagi,”Coba ceritakan tentang Iman!”
Nabi menjawab,” Iman ialah supaya engkau percaya kepada Allah, MalikatNya, RasulNya, hari akhirat dan percaya dengan takdir baik dan buruknya”.
Di mnjawab, “Benar”
Dia bertanya lagi,”Apa Ihsan itu?”
Nabi menjawab,”Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya maka dia melihat akan engkau.”
Dia bertanya lagi,”kapan hari kiamat?”
Nabi menjawab,”yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya.”
Di bertanya lagi,”Coba ceritakan tanda-tandanya! Kalau sudah melahirkan budak akan penghulunya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si pengemmbala kambing yang miskin.”
Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Saidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami,”hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu?”
Jawab saya,”Tuhan Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi menjelaskan, “itulah Malaikat Jibril, dia datang untuk mengajarkhan agammu.”(H.R. Imam Bukhari dan Muslim, Syarah Muslim I hal. 157-160).
Dari hal diatas maka disini penulis menjelaskahan bahwa Pilar Islam itu ada 3 Islam, Iman dan Ihsan, tetpi disini penulis tidak akan menjelaskahan tentang Iman dan Islam, karna itu telah bakyak kita ketahui dan buku-buku terbitan dan karya-karya para pemikir sudah banyak dan tinggal kita cari, baca dan kita pahami. Disini penulis mencoba menguraikah pilar Islam yang ketiga yaitu Ihsan, disini penulis mengutip dari buku karya Prof.DR.K.H. Djamaan Nur.
IHSAN
Ihsan itu sasaranya adalah batin rohaniyah. Batin rohaniah seseorang yang beribadah harus bersih sehingga membuahkan ubudiah yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Ilmu yang membahas tentang itu adalah Ilmu Tasawuf dan Tarekat. Didalam hadis tersebut, Ihsan itu artinya kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah berada dihadapan kita, atau kita merasakan dan mengi’tikadkan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan kita.
Termasuk dalam kajian Tasawuf adalah segala usaha dan ikhtiar untuk berakhlakul karimah, beribadah yang khusuk, dengan cara mujahadah terus menerus dengan cara atau metode tertentu, sehingga diri rohani kita menjadi bersih, dapat dekat kepada Allah SWT, guna memperoleh ridla dan Nur Uluhiyah-Nya.
Dengan demikian Ihsan itu merupakan suatu Maqam, dimana seseorang melaksanakan syariat dan dijiwai dengan hakikat syariat itu sendiri, sehingga dia memperoleh ma’rifah terhadap Allah SWT. Pada bagian lain, pakar tasawuf mengatakan ihsan itu adalah ajaran muraqabah, tahalli dan tajalli.
Ada 11(sebelas) tempat Allah menyebutkan kata ihsan dalam Al Qur’an dengan berbagai konteks dan 40 (empat puluh) tempat menggunakan kata itu sebagai pelaku ihsan, yaitu muhsin.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan (Q.s. An Nahl 18:90).
Saidi Syeh Sulaiman Zuhdi seorang tokoh sufi dari kalangan Tarikat Naqsyabandiyah, menafsirkan ayat ini dalam konteks hadis Jibril riwayat Bukhari Muslim tersebut diatas tadi, bahwa pelaksanaan ihsan wajib hadir Allah SWT secara Maknawi pada waktu kita melaksanakan ibadah. Hadirnya Allah dalam hati sanubari pada waktu seseorang beribadah tidak mungkin, kecuali terpenuhi 2(dua) syarat, yaitu, sucinya hati nurani dan ikhlasnya seseorang yang beribadah itu. Suci dan ikhlas itu tidak mungkin dicapai, kecuali melalui metode atau cara tertentu, yaitu Tasawuf dengan metode Tarikat yang agung. Oleh sebab itu menurut sebagaian besar pendapat ulama, bahwa Bertarikat merupakan kewajiban pertama setelah seseorang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Pendapat ini dikuatkhan oleh beberapa hadis sahih, termasuk beberapa hadits Qudsi yang dijelaskan panjang lebar dalam risalah beliau. (Sulaiman Zuhdi : 7-8).
Ihsan yang pelaksanaanya melalau Tasawuf dan Metode Tarikatullah dijadikan sebagai Moto Utama oleh para sufi. Tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui akidah (keimanan), pengamalan syariat Islam dan akhlak. Abdul karim al-jili tokoh sufi memasukkan ihsan sebagai salah satu ahwal atau maqam yang harus dilalui oleh sufi untuk mencapai derajat insan kamil.
Dalam buku-buku Tasawuf disebutkan bahwa Tasawuf itu adalah ilmu batin, ilmu rohani yang berpusat pada hati nurani. Ilmu fikih adalah ilmu zahir, ilmu yang membahas tentang masalah syariat dan rukun ibadah, sah dan batalnya ibadah, masalah kemasyarakatan dan lain-lain yang dikelola oleh akal, yang berpusat pada otak. Sering juga dikatakan bahwa ilmu Tasawuf itu ilmu hakikat, sedangkhan ilmu fikih itu dinamakan Ilmu Syariat. Melaksanakan suatu ibadah yang dapat menimbulkan ibadah yang ikhlas dan khusuk, itulah ibadah yang dapat menimbulkan ibadah yang ikhlas dan khusuk, sebab bersatu padanya syariat dan hakikat, serta bersatu pula padanya olahan otak dan hati.
Ketiga pilar tersebut tidak boleh dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi harus dilaksankan terpadu secara utuh dan bulat, sebab ketiga pilar itulah yang membuat menyatu menjadi agama Islam. Dengan penjelasan ini, jelas bahwa Taswuf itu adalah bagian dari agama Islam, tidak di luar Islam, bukan pula Bid’ah, syirik dan sebagainya.
Setelah Rukun Iman dan Rukun Islam itu terlaksana denganbaik, maka dia dilengkapi dan disempurnakan dengan amal-amal kabaikan yang lahiriyah, yang kita namakan ihsan. Ihsan disini dalam artian lahiriah melaksanakan amal-amal sunnah, seperti shalat-shalat sunat, puasa sunat, infaq, sedekah sunat, saling membantu dan berbuat kebaikan sesama umat. Ihsan dalam bentuk lahiriah ini, manakla dilandasi dan dijiwai dalam bentuk rohaniah batin, akan menumbuhkan keikhlasan. Beramal Ihsan yang ikhlas membuahkan takwa yang merupakan buah tertinggi dari segala amal ibadah kita.
Adapun hubungan antara iman dan islam itu laksana hubungan akar dengan batang pada suatu pohon. Pohon tidak akan berbuah kalau tidak ada akar, pohon tidak akan tumbuh kalau tidak ada akar. Adanya akar yang kuat dengan pohon yang sebur itulah yang mendatangkan buah. Apa artinya Rukun Iman, tanpa pelaksanaan Rukun Islam. Apa artinya pelaksanaan Rukun Islam, tnapa dilandasi Rukun Iman. Kedua-duanya tidak akan menghasilkan buah. Dengan jelas dan gamlang Allah SWT mengisaratkahan hubungan kedunya ini dalam firman-Nya :”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit. Pohon itu memberikan buah pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Q.S. Ibrahim 14:24-25).
Dalam kajian Tasawuf yang emnghubungkan Rukun Iman dengan Rukun Islam adalah Ihsan. Pelaksanaan rukun Islam harus dengan Ihsan yaitu dirasakan hadirnya Allah SWT pada waktu beribadah sehingga ibadah tersebut menjadi khusuk. Ibadah dengan ihsan itu akan berbekas dan berbuah. Demikian pulalah yang menghubungkan akar dengan batang dan sebaliknya, batang dengan akar dalam suatu pohon. Serapan dari akar didistribusikan kepda batang. Sebaliknya, serapan batang yang terdiri dari bahan, ranting dan daun akan didistribusikan pula kepada akar. Pohon tidak akan tumbuh dan subur tanpa adanya serapan itu.
Pros. Dr.H.S.S. Kadirun Yahya menyampaikan, bahwa kita jangan hanya pandai bercerita tentang maqam ihsan, dimana memang benar, pada maqam ihsan itu, tidak ada doa yang dotolak Allah SWT. Yang paling utama adalah, bagaimana cara menguasai pelaksanaan teknisnya, agar sampai mencapai maqam ihsan itu, dimana Allah SWT tidak akan menolak tiap-tiap doa dari hamba-Nya yang khalis mukhlisin, yang dikasihi, yang di dalam dadanya bersinar Nuurun’alaNuurin, barulah Allah SWT tergugah dan menurunkan Rahmat dan karunia-Nya.
Kita harus paham bahwa maqam ihsan adalah pada sisi Allah SWT di temapat yang jauh letaknya, diArasy yang tak terhingga jauhnya, mau tak mau harus ada yang membawa rohani kita ke situ yang mempunyai kapasitas yang tak terhingga pula, itulah dia Nuurun’ala Nuurin yang semestinya kita warisi dari Ruhani Rasulullah SWT. Semua itu termaktub dalam bidang Tasawuf dan Sufi, yang hanya dapat diuraikan dengan hukum-hukum teknologi modern, berdampingan dengan Al Qur’an dan Al Hadist
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar