27 September 2009

Jalan Istiqomah

Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Diriwayatkan oleh Ummu Habibah ra, ia berkata, bahwa Rasulullah saw, bersabda:
“Tak seorang pun hamba yang muslim, sholat Lillahi Ta’ala setiap hari dua belas rekaat, sholat sunnah, bukan sholat fardlu, kecuali Allah

membangunkan rumah di dalam syurga.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’y).

Hadits ini memotifasi untuk menegakkan ibadah-ibadah sunnah, karena ibadah sunnah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah Ta’ala, sekalgus menjadi bekal kaum ‘arifun dalam menempuh jalan mneuju kepada Allah swt. Sekaligus menjadi perilaku kaum yang mengkhususkan (menyendiri) jiwanya di sisi Allah swt.
Anak-anak sekalian! Ketahuilah siapa yang hakikat batinnya menyendiri bersama Allah secara total, dan rahasia sirrnya benar-benar manunggal, akan terbuka seluruh tirai, segala bukti menjadi nyata, ketika musyahadah pada Cahaya Al-Haq Allah swt.
Di sanalah ia Allah menuangkan minuman dengan gelas CintaNya, hingga ia mabuk dari lainNya, segalanya menjadi riang nan ringan. Segala diamnya adalah dzikir, nafasnya adalah tasbih, kalamnya adalah penyucian, dan tidurnya adalah sholat (do’a). Sang hamba senantiasa menaiki kendaraan ma’rifat, hingga bertemu Yang Dima’rifati. Bila sudah bertemu, ia abadi selamanya bersamaNya, tidak berpaling ke lainNya.
Qalbu itu ibarat istana, dan ma’rifat adalah rajanya, akal adalah menterinya yang punya department dan instrument. Lisan sebagai penerjemah, sedangkan rahasia batinnya dari khazanah Ar-Rahman. Masing-masing konsisten dengan posisinya, sedangkan arah seluruhnya adalah istiqomahnya sirr bersama Allah swt.

Bila Sirr istiqomah, maka ma’rifat menjadi istiqomah, lalu akal menjadi lurus. Bila akal konsisten, qalbu akan konsisten. Bila qalbu konsisten, jiwa akan konsisten. Bila nafsu konsisten (dalam pengendalian), perilaku batin akan konsisten.
Sirr dicahayai oleh Sifat Jamal dan JalalNya. Akal dicahayai oleh cahaya kesadaran dan renungan pelajaran. Qalbu dicahayai oleh cahaya rasa takut dan cinta disertai kontemplasi fikiran.

Nafsu dicahayai dengan cahaya olah jiwa dan pengekangan.
Sirr adalah lautan dari samudera anugerah pemberianNya, dan gelombangnya tak terhingga, tiada henti pula. Jika Sirr konsisten bersama Allah swt, maka senantiasa akan abadi dalam musyahadah, dan sirna dari penglihatan pada Istiqomahnya.
Perlu diketahui bahwa Jalan Istiqomah (konsistensi) itu laksana tenda agung dari jalan akhirat, dan berjalan di tepinya lebih sulit disbanding jalan di tepian akhirat. Alam rahasia bias menjadi tipudaya, karena Allah swt tidak suka pada hati hamba yang masih ada cinta pada yang lain selain Dia.
Mereka tidak ingin sesuatu dari Allah kecuali Allah. Dalam sebagaian kitabNya Allah Ta’ala berfirman : “Bila yang kesibukan jiwa hambaKu lebih kepadaKu disbanding yang lain, maka Kujadikan nikmat dan hasrat ada dalam mencintaiKu, dan Aku singkapkan hijab antara diriKu dengan dirinya.” Ada seseorang sedang masuk dalam tempat Syeikh Sary as-Saqathy, lantas lelaki itu bertanya, “Manakah yang bias mendekatkan pada Allah Ta’ala, hingga sang hamba bias mendekat kepadaNya?”
Maka As-Sary menangis, lalu berkata, “Orang seperti anda ini masih bertanya seperti itu? Yang paling utama cara mendekatkan hamba kepada Allah Subhanahu wa-Ta’ala, hendaknya Allah swt, muncul di hatimu, dan anda tidak mau sama sekali pada dunia dan akhirat, kecuali hanya padaNya.”

Ibrahim bin Adham ra mengatakan, “Puncak dari hasrat dan citaku dalam hubunganku dengan Allah Ta’ala adalah, hendaknya Dia menjadikan diriku condong terus kepadaNya, hingga aku tak memandang apa pun selain Dia, dan aku tidak sibuk dengan siapa pun selain sibuk denganNya, aku tak peduli Dia jadikan diriku jadi debu, atau hilang sama sekali.”

Nabi Ibrahim as, pernah ditanya, “Dengan cara apa anda dapatkan keakraban dengan Allah Ta’ala?” “Dengan memutuskan diriku hanya kepada Tuhanku, dan pilihanku kepadaNya dibanding lainNya, serta aku tidak pernah makan kecuali bersama tamuku.”
Rabi’ah al-Bashriyah ra mengatakan :
“Oh Tuhanku, hasratku di dunia dan di akhirat nanti hanya mengingatmu, dan hasratku di akhirat dari akhirat hanya memandangMu, maka lakukanlah antara keduanya sekehendakMu.”
Abu Yazid al-Bisthamy ra menegaskan, “Rahasia batinku naik menuju Allah swt, lalu terbang dengan sayap ma’rifat dengan cahaya kecerdasan di cakrawala Wahdaniyah (KemahatunggalanNya). Tiba-tiba nafsu menghadapku dan berkata, “Kemana kau pergi? Akulah nafsumu dan engkau harus bersamaku.” Namun rahasia batinku (sirr) sama sekali tidak menoleh padanya.

Kemudian makhluk-makhluk lain menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana kau pergi? Kami adalah teman dan tempat curhatmu, engkau harus bersama kami, demi solidaritas padamu!” Sirrku sama sekali tidak menoleh.
Lantas syurga dengan segenap isinya menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana engkau pergi? Engkau itu bagiku dan engkau harus di sini denganku.” Maka sirrku sama sekali tidak berpaling.

Lalu anugerah dan pemberian menghadapku, begitu juga karomah-karomah, hingga melewati kerajaanNya, sampai pada kemah Fardaniyah (KetunggalanNya), lantas melampaui universalitas dan keakuan, hingga sirrku sampai di hadapan Allah swt. Dialah yang kucari!”
Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa! Sesungguhnya orang yang menjumpaiKu pasti tidak akan kembali dariKu, dan tidak akan kembali kecuali dari Jalan (lurusKu).” Abul Abbas nin Atha’ ra, mengatakan, “Manakala akhirat muncul dalam diri hamba, dunia menjadi sirna di sisinya, sehingga sang hamba hanya menetap di negeri keabadian. Namun manakala sang hamba berada dalam penyaksian Allah Ta’ala, segala hal selain Allah Ta’ala sirna, dan hamba abadi bersama Allah swt.” Ada lelaki di hadapan Abu Yazid ra, berkata, “Ada informasi sampai kepadaku bahwa engkau punya Ismul A’dzom, sangat senang jika engkau mengajariku.”
Abu Yazid menjawab, “Nama Allah itu tidak terbatas. Namun kosongkan hatimu hanya bagi KemahaesaanNya, meninggalkan berpaling pada selain Allah Ta’ala. Jika anda bisa demikian, raihlah Ism (Nama) mana pun yang kau kehendaki, maka dengan Isim itu anda bisa pergi dari timur hingga barat, dalam sekejap dan anda telah kembali.”

Dzun Nun al-Mishry ra, mengatakan, “Ketika aku naik haji, tiba-tiba ada anak muda mengatakan : “Oh Tuhanku, aku telah mengumpulkan tebusanMu, dan engkau Maha Tahu, lalu apa yang Engkau berlakukan pada mereka?”
Lalu kudengar suara : “TebusanKu banyak, dan yang mencariKu sedikit.” Sebagian Sufi ditanya, “Seberapakah antara Allah swt dan hambaNya?” “Empat langkah saja: Satu langkah meninggalkan dunia; satu langkah meninggalkan makhluk; satu langkah meninggalkan nafsu; dan satu langhkah meninggalkan akhirat, maka sang hamba sudah dihadapan Allah swt.” Jawabnya.
Sarry ra berkata, “Siapa yang bangkit untuk taat kepada Allah Ta’ala tanpa ada yang lain, Allah akan memberi minuman dari mata air cinta dariNya, dan dihantar menuju tempat yang benar.”

Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah mengatakan, “Orang arif manakala keluar dari dunia tak ada pemandu maupun penyakdi di hari kiamat, tidak ada Malaikat Ridlwan di syurga, juga tidak ada Malaikat Malik di neraka.”
Beliau ditanya, “Lalu dimana sang arif di jumpai?”
“Di hadapan Allah Yang Maha Diraja, di tempat yang benar. Ketika mereka bangkit dari kuburnya mereka tidak bertanya-tanya, “Mana keluarga dan anakku? Mana Jibril dan Mikail? Mana syurga dan pahala?” Namun justru berkata, “Manakah Kekasihku dan kemesraan hatiku?”
Qalbu kaum airfin punya mata Yang memandang apa yang tak biasa dipandang manusia Sedangkan lisannya berkata dengan rahasia batinnya
munajat dari malaikat-malaikat mulia di sisiNya yang mencatat :
Sayap-sayap yang terbang tanpa bulu
Hinggap di sisi Rabbul ‘alamin.
Lalu bagai gembalaan di taman suci menari
Dan meminum dari lautan para RasulNya
Para hamba yang menuju kepadaNya
Hingga mendekat, sampai bertemu denganNya.

Musibah Batin: Hijab

Syeikh Ahmad ar-Rifa'y
Sesungguhnya Nabi saw, bersabda:
“Perbuatan-perbuatan baik bisa menjaga serangan keburukan, dan sesungguhnya sedekah rahasia itu bisa meniup api amarah Tuhan, dan sebgenarnya sillaturrahim itu menambah usia dan menghapus kemiskinan.” (Hr Thabrani)
Dalam hadits yang mulia ini ada pelajaran aklaq mulia, dimana kaum arifin membubung menuju Rabbnya. Sebab asas dari ma’rifat adalah Makarimul Akhlaq (semulia-mulianya akhlaq), sedangkan akhlaq buruk, adalah – na’udzubillah – adalah wujud terhijabnya rahasia batin dari Allah Ta’ala.

Anak-anakku sekalian. Diantara musibah rahasia batin terbesar adalah terhijabnya kita dari Allah swt. Maka siapa pun yang mendapatkan musibah seperti, pada dasaranya ia telah menggabungkan musibah-musibah lainnya. Sang pecinta itu senantiasa mabuk Ilahi, sang pemabuk tak akan merasakan derita musibah ketiba mabuk , baru disaat sadar merasakan deritanya.
Musibah terhijab dari Allah swt tak bisa diganti atas kehilangannya selamanya, kecuali dengan menepiskan segala hal selain Allah swt, dari rahasia batin kita. Tak ada ancaman lebih serius di dalam Al-Qur’an dibanding ayat ini:
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.”

Betapa banyak orang yang taat tetapi terhijab dari Yang Ditaati (Allah swt.). Betapa banyak orang yang dapat nikmat tapi terhijab dari Sang Pemberi nikmat. Betapa banyak orang yang tidur, diberi rizki kesadaran bangun ketika ia sedang tertidur. Betapa banyak orang yang sadar tertidur justru setelah ia bangun. Betapa banyak orang yang pendosa, justru diberi rizki kewalian dan meraih derajat Abrar. Betapa banyak orang zuhud yang gugur dari wilayahnya, dan menempuh jalan pendosa.

Hijab Itu Siksa Jauh Dari Allah SWT

Betapa banyak ahli amal yang terhijab gara-gara melihat amalnya, jauh dari memandang anugerah Allah swt, hingga matahatinya buta, lalu ia terlempar jauh, sementara ia menduga dirinya telah sampai (wushul) kepada Allah swt. Dan tidak ada yang lebih mengerikan dimata orang arif disbanding hijab itu sendiri, walau sekejab mata. Padahal siksa Allah swt, terbesar pada hamba adalah Hijab dan Terjauhkan dariNya.

Salah seorang hamba Allah swt, dikisahkan sedang bermunajat:
“Oh, Tuhanku, sampaikan kapan aku maksiat kepadaMu, sedangkan Engkau tak pernah menyiksaku?”. Kemudian Allah swt, menurunkan wahyu kepada sorang Nabi di kala itu, “Katakan kepadanya: “Sampai kapankah Aku menyiksamu, sedangkan kamu tidak mengerti? Bukankah engkau telah Aku tutup dari kelembutan-kelembutan kebahagiaanKu? Bukankah Aku telah mengeluarklan kemanisan munajat kepadaKu dari hatimu?!”

Abu Musa ra, pelayan Abu Yazid ra, mengatakan, “Suatu hari Syeikh abu Yazid memasuki suatu kota, kemudian massa banyak datang berjubal mengikutinya. Ketika abu yazid melihat mereka dan berjubalnya mereka, beliau mengatakan. “Ya Allah aku mohon perlindungan kepadaMu dari terhijab padaMu karena mereka. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari hijabMu atas mereka, karena gara-gara aku.”
Semoga Allah merahmatinya, betapa banyak kesadaran itu, dan betapa benarnya Abu Yazid dengan Tuhannya, betapa besarnya kasih saying Abu Yazid pada sahabat-sahabatnya kaum muslimin.Ia menginginkan kebajikan dan pandangan yang benar bagi mereka, sebagaimana pada dirinya.
Ingatlah! Hai orang yang bergaul dengan massa, dan massa yang fanatik kepada anda. Hati-hati! Betapa banyak ketukan-ketukan sandal di sekitar tokoh sirna dari kepalanya? Betapa banyak hilang agamanya? Ya Allah selamatkan, Ya Allah selamatkan!

Manusia terbagi menjadi empat golongan:

Ada orang yang yang hatinya memandang tajam, dengan pandangan cahaya yaqin atas rahasia ciptaanNya dan keparipurnaan KuasaNya.
Ada orang yang yang akalnya tajam, memandang dengan cahaya kecerdasannya pada janji dan ancamanNya.
Ada orang yang rahasia batinnya (sirr) tajam, memandang setiap saat dengan cahaya ma’rifat kepada Allah swt.
Ada orang yang dijadikan oleh Allah swt, tertutup, tidak sama sekali bisa memandang, dan inilah yang disebut dalam ayat: “Dan siapa yang buta mata hatinya di dunia ini, maka di akhirat lebih buta dan lebih sesat jalannya.”
Ingatlah:
• Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
• Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa.
• Ahli ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya.

Bila Allah swt, menghailangkan hijab-hijab ini, mereka akan memandang dengan mata cahaya menuju cahaya, maka pada saat itulah mereka terhijab dari segala hal selain Allah swt.
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhijab dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhijab dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.

Terkadang seseorang terhijab dari manisnya ibadah, melalui memandang ibadahnya. Terkadang seseorang terhijab dari kebenaran kehendak, karena memandang manisnya ekstase.

Terkadang seseorang terhijab dari memandang Allah swt, Sang Pemberi anugerah, karena memandang anugerah itu sendiri.
An-Nasaj ra, mengatakan:
- Siapa yang memandang dirinya dalam ibadahnya, berarti tidak bisa bersih dari ujub!
- Siapa yang mermandang makhluk, ia tak akan bersih dari riya’!
- Siapa yang memandang taatnya, tak akan bersih dari tipudaya!
- Siapa yang memandang pahala tak akan pernah bersih dari hijab!
- Siapa yang memandang Rabb Ta’ala, maka itulah berada dalam posisi yang benar di sisi Tuhan Diraja Yang Kuasa.”

Abu Bakr bin Abdullah ra mengatakan, “Siapa yang sibuk dengan nuansa hikmah dan rahasia-rahasianya, maka ia akan terhijab dari hakikatnya. Dan aku tak pernah diperlihatkan maksiat yang lebih bahaya ketimbang melupakan Allah swt. dan penggantungan hati pada selain Allah swt.”
“Setiap hasrat dan dzikir pada selain Allah Ta’ala adalah hijab antara dirimu dengan Allah swt.”

Dalam hadits disebutkan:
“Betapa banyak kebajikan yang dilakukan seseorang yang tak ada keburukan baginya, justru lebih berbahaya padanya disbanding keburukan itu sendiri. Dan betapa banyak keburukan yang dilakukan seseorang yang tak ada kebajikan padanya, justru lebih bermanfaat padanya dibanding kebajikan itu sendiri.”

Maksudnya: “Kebajikan itu sebenarnya terpuji, dan keburukan itu tercela. Namun sepanjang seorang hamba dalam berbuat kebajikan masih melihat kebajikannya, maka ia berada di medan pamer dan kebanggaan. Dan sepanjang hamba dalam keburukan, namun ia masih melihat keburukan itu, berarti ia berada di medan remuk redam dirinya dan merasa sangat butuh padaNya. Padahal kondisi hamba dalam situasi sangat butuh pada Allah itu lebih baik.”
Abu Bakr as-Shiddiq ra mengatakan, “ Ya Allah aku mohon berlindungan padaMu dari syirik tersembunyi.” Sedangkan Rabi’ah ra, menegaskan, “Dunia telah menutupi penghuninya dari Allah swt. Seandainya mereka meninggalkannya pastilah tampak di alam malakutnya, lalu ia kembali dengan sariguna yang berfaedah.”

Sayyid Manshur ar-Rabbany ra, menegaskan, “Dengan apa sang hamba dikenal bahwa ia tidak terhijab dari Tuhannya?”. Ia menjawab, “Jika ia mencariNya dan ia tidak menuntut apa pun dariNya. Hamba menghendakiNya dan ia tidak berkehendak sesuatu dariNya. Dan Dia tidak memilih, karena menyerahkan pilihan padaNya, walau pun dipilihkan neraka oleh Allah swt. padanya.”

“Setiap orang yang di dalam hatinya tidak ada penetrasi Kharisma Ilahi, tidak ada cahaya cinta padaNya, tidak ada kemesraan kebersamaan denganNya, maka ia terhijab.” Tandasnya.

Katanya pula:

Cukuplah buatmu ma’rifat itu, manakala engkau tahu bahwa Allah swt memandangmu. Dan cukuplah ibadah itu, bila Allah swt itu tidak butuh padamu.
Cukuplah cinta itu bagimu, jika engkau tahu bahwa CintaNya mendahului cintamu padaNya.
Cukuplah dzikir bagimu, bahwa DzikirNya mendahului dzikirmu.
Hati ketika dilanda Kharisma Ilahi, segala hal berbau syahwat sirna.
Ketika hati di hamparan ma’rifat, segala hal kealpaan sirna.
Hati ketika didudukkan pada tempat Ketunggalan dengan Tunggal bagi Yang Tunggal, itulah tempat duduk yang benar.

TIGA PILAR ISLAM

Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Muslim dinyatakan bahwa agama Islam itu meliputi tiga pilar, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan. Sabda Rasullah SAW : “dari Saidini Umar bin Khatab r.a, beliau berkata, “Pada suatu hari katika kami bersama-sama Rasulullah SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa dia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu.
Dia duduk berhadapan dengan Nabi dengan mangadu lututnya dengan lutut Nabi dan meletakkan tangganya di atas pahanya, lalu dia bertanya, “Wai muhammad, coba ceritakan kepadaku tetntang Islam. Nabi menjawab, “Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selali Allah dan Muhammad itu Rasullah, engkau kerjakan salat, engkau kerjakan zakat, engkau lalkukan puasa bulan Ramadhan, engkau naik Haji kalau kuasa.”
Laki-laki itu menjawab, :Benar”.
“ Kami heran”, Kata Umar bin Khatab. Dia bertanya dan dia pula yang membenarkan.
Lalu dia bertanya lagi,”Coba ceritakan tentang Iman!”
Nabi menjawab,” Iman ialah supaya engkau percaya kepada Allah, MalikatNya, RasulNya, hari akhirat dan percaya dengan takdir baik dan buruknya”.
Di mnjawab, “Benar”
Dia bertanya lagi,”Apa Ihsan itu?”
Nabi menjawab,”Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya maka dia melihat akan engkau.”
Dia bertanya lagi,”kapan hari kiamat?”
Nabi menjawab,”yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya.”
Di bertanya lagi,”Coba ceritakan tanda-tandanya! Kalau sudah melahirkan budak akan penghulunya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si pengemmbala kambing yang miskin.”
Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Saidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami,”hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu?”
Jawab saya,”Tuhan Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi menjelaskan, “itulah Malaikat Jibril, dia datang untuk mengajarkhan agammu.”(H.R. Imam Bukhari dan Muslim, Syarah Muslim I hal. 157-160).

Dari hal diatas maka disini penulis menjelaskahan bahwa Pilar Islam itu ada 3 Islam, Iman dan Ihsan, tetpi disini penulis tidak akan menjelaskahan tentang Iman dan Islam, karna itu telah bakyak kita ketahui dan buku-buku terbitan dan karya-karya para pemikir sudah banyak dan tinggal kita cari, baca dan kita pahami. Disini penulis mencoba menguraikah pilar Islam yang ketiga yaitu Ihsan, disini penulis mengutip dari buku karya Prof.DR.K.H. Djamaan Nur.

IHSAN

Ihsan itu sasaranya adalah batin rohaniyah. Batin rohaniah seseorang yang beribadah harus bersih sehingga membuahkan ubudiah yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Ilmu yang membahas tentang itu adalah Ilmu Tasawuf dan Tarekat. Didalam hadis tersebut, Ihsan itu artinya kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah berada dihadapan kita, atau kita merasakan dan mengi’tikadkan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan kita.
Termasuk dalam kajian Tasawuf adalah segala usaha dan ikhtiar untuk berakhlakul karimah, beribadah yang khusuk, dengan cara mujahadah terus menerus dengan cara atau metode tertentu, sehingga diri rohani kita menjadi bersih, dapat dekat kepada Allah SWT, guna memperoleh ridla dan Nur Uluhiyah-Nya.

Dengan demikian Ihsan itu merupakan suatu Maqam, dimana seseorang melaksanakan syariat dan dijiwai dengan hakikat syariat itu sendiri, sehingga dia memperoleh ma’rifah terhadap Allah SWT. Pada bagian lain, pakar tasawuf mengatakan ihsan itu adalah ajaran muraqabah, tahalli dan tajalli.

Ada 11(sebelas) tempat Allah menyebutkan kata ihsan dalam Al Qur’an dengan berbagai konteks dan 40 (empat puluh) tempat menggunakan kata itu sebagai pelaku ihsan, yaitu muhsin.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan (Q.s. An Nahl 18:90).

Saidi Syeh Sulaiman Zuhdi seorang tokoh sufi dari kalangan Tarikat Naqsyabandiyah, menafsirkan ayat ini dalam konteks hadis Jibril riwayat Bukhari Muslim tersebut diatas tadi, bahwa pelaksanaan ihsan wajib hadir Allah SWT secara Maknawi pada waktu kita melaksanakan ibadah. Hadirnya Allah dalam hati sanubari pada waktu seseorang beribadah tidak mungkin, kecuali terpenuhi 2(dua) syarat, yaitu, sucinya hati nurani dan ikhlasnya seseorang yang beribadah itu. Suci dan ikhlas itu tidak mungkin dicapai, kecuali melalui metode atau cara tertentu, yaitu Tasawuf dengan metode Tarikat yang agung. Oleh sebab itu menurut sebagaian besar pendapat ulama, bahwa Bertarikat merupakan kewajiban pertama setelah seseorang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Pendapat ini dikuatkhan oleh beberapa hadis sahih, termasuk beberapa hadits Qudsi yang dijelaskan panjang lebar dalam risalah beliau. (Sulaiman Zuhdi : 7-8).

Ihsan yang pelaksanaanya melalau Tasawuf dan Metode Tarikatullah dijadikan sebagai Moto Utama oleh para sufi. Tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui akidah (keimanan), pengamalan syariat Islam dan akhlak. Abdul karim al-jili tokoh sufi memasukkan ihsan sebagai salah satu ahwal atau maqam yang harus dilalui oleh sufi untuk mencapai derajat insan kamil.

Dalam buku-buku Tasawuf disebutkan bahwa Tasawuf itu adalah ilmu batin, ilmu rohani yang berpusat pada hati nurani. Ilmu fikih adalah ilmu zahir, ilmu yang membahas tentang masalah syariat dan rukun ibadah, sah dan batalnya ibadah, masalah kemasyarakatan dan lain-lain yang dikelola oleh akal, yang berpusat pada otak. Sering juga dikatakan bahwa ilmu Tasawuf itu ilmu hakikat, sedangkhan ilmu fikih itu dinamakan Ilmu Syariat. Melaksanakan suatu ibadah yang dapat menimbulkan ibadah yang ikhlas dan khusuk, itulah ibadah yang dapat menimbulkan ibadah yang ikhlas dan khusuk, sebab bersatu padanya syariat dan hakikat, serta bersatu pula padanya olahan otak dan hati.

Ketiga pilar tersebut tidak boleh dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi harus dilaksankan terpadu secara utuh dan bulat, sebab ketiga pilar itulah yang membuat menyatu menjadi agama Islam. Dengan penjelasan ini, jelas bahwa Taswuf itu adalah bagian dari agama Islam, tidak di luar Islam, bukan pula Bid’ah, syirik dan sebagainya.

Setelah Rukun Iman dan Rukun Islam itu terlaksana denganbaik, maka dia dilengkapi dan disempurnakan dengan amal-amal kabaikan yang lahiriyah, yang kita namakan ihsan. Ihsan disini dalam artian lahiriah melaksanakan amal-amal sunnah, seperti shalat-shalat sunat, puasa sunat, infaq, sedekah sunat, saling membantu dan berbuat kebaikan sesama umat. Ihsan dalam bentuk lahiriah ini, manakla dilandasi dan dijiwai dalam bentuk rohaniah batin, akan menumbuhkan keikhlasan. Beramal Ihsan yang ikhlas membuahkan takwa yang merupakan buah tertinggi dari segala amal ibadah kita.

Adapun hubungan antara iman dan islam itu laksana hubungan akar dengan batang pada suatu pohon. Pohon tidak akan berbuah kalau tidak ada akar, pohon tidak akan tumbuh kalau tidak ada akar. Adanya akar yang kuat dengan pohon yang sebur itulah yang mendatangkan buah. Apa artinya Rukun Iman, tanpa pelaksanaan Rukun Islam. Apa artinya pelaksanaan Rukun Islam, tnapa dilandasi Rukun Iman. Kedua-duanya tidak akan menghasilkan buah. Dengan jelas dan gamlang Allah SWT mengisaratkahan hubungan kedunya ini dalam firman-Nya :”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit. Pohon itu memberikan buah pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Q.S. Ibrahim 14:24-25).

Dalam kajian Tasawuf yang emnghubungkan Rukun Iman dengan Rukun Islam adalah Ihsan. Pelaksanaan rukun Islam harus dengan Ihsan yaitu dirasakan hadirnya Allah SWT pada waktu beribadah sehingga ibadah tersebut menjadi khusuk. Ibadah dengan ihsan itu akan berbekas dan berbuah. Demikian pulalah yang menghubungkan akar dengan batang dan sebaliknya, batang dengan akar dalam suatu pohon. Serapan dari akar didistribusikan kepda batang. Sebaliknya, serapan batang yang terdiri dari bahan, ranting dan daun akan didistribusikan pula kepada akar. Pohon tidak akan tumbuh dan subur tanpa adanya serapan itu.

Pros. Dr.H.S.S. Kadirun Yahya menyampaikan, bahwa kita jangan hanya pandai bercerita tentang maqam ihsan, dimana memang benar, pada maqam ihsan itu, tidak ada doa yang dotolak Allah SWT. Yang paling utama adalah, bagaimana cara menguasai pelaksanaan teknisnya, agar sampai mencapai maqam ihsan itu, dimana Allah SWT tidak akan menolak tiap-tiap doa dari hamba-Nya yang khalis mukhlisin, yang dikasihi, yang di dalam dadanya bersinar Nuurun’alaNuurin, barulah Allah SWT tergugah dan menurunkan Rahmat dan karunia-Nya.

Kita harus paham bahwa maqam ihsan adalah pada sisi Allah SWT di temapat yang jauh letaknya, diArasy yang tak terhingga jauhnya, mau tak mau harus ada yang membawa rohani kita ke situ yang mempunyai kapasitas yang tak terhingga pula, itulah dia Nuurun’ala Nuurin yang semestinya kita warisi dari Ruhani Rasulullah SWT. Semua itu termaktub dalam bidang Tasawuf dan Sufi, yang hanya dapat diuraikan dengan hukum-hukum teknologi modern, berdampingan dengan Al Qur’an dan Al Hadist